Max Allegri Masih Terbayang Kegagalan di AC Milan

Manajer Juventus, Massimilliano Allegri, tak merasa dihantui oleh dua kegagalan di final Liga champions Eropa dalam tiga tahun terakhir, namun kegagalan yang berujung pemecatan oleh AC Milan adalah satu-satunya kegagalan yang masih menghantui sosok berusia 50 tahun tersebut.

Max Allegri Masih Terbayang Kegagalan di AC Milan

Sebagaimana diketahui, sebelum menangani Juventus sejak tahun 2014 lalu, Conte memang sempat menangani AC Milan, tepatnya pada periode 2010-2014. Pada musim 2010/11, Allegri berhasil mengantarkan Rossoneri jadi kampiun Serie A italia, tapi setelah itu hasil demi hasil yang didapat Milan sungguh mengecewakan. Tak hanya gagal mempertahankan Scudetto, mendapatkan tempat di Zona Liga champions Saja mereka kesulitan.

Karena alasan tersebut, kemudian AC Milan memutuskan untuk mendepak sang manajer pada Januari tahun 2014. Dia sempat menganggur selama setengah musim, sebelum kemudian dipekerjakan oleh Juventus pada musim panas tahun 2014 untuk menggantikan Conte.

Sempat diragukan bakal mampu mempertahankan prestasi Juventus, Allegri justru berhasil meraih tiga trofi Scudetto, bahkan membawa juve ke final Liga champions Eropa sebanyak dua kali dalam tiga tahun terakhir. Di dua final yang nyaris membawa Juventus treble winner tersebut, Allegri gagal menang, namun dua kegagalan itu tak lantas menghantui sang pelatih, melainkan kegagalan saat masih menukangi AC Milan.

“Sebagai pelatih, Anda belajar paling banyak dari kegagalan,” ungkap Allegri. “Ketika saya berpikir tentang momen terpenting dalam karier saya, tidak ada hubungannya dengan Scudetto atau Liga Champions. Itu adalah hari ketika saya berjalan ke kantor Milan dan saya dipecat. Itu tidaklah mengejutkan. Saya tahu bahwa saya akan dipecat.”

“Mereka sangat menghormati saya. Mereka mengatakan pada saya secara langsung bahwa saya tak lagi menjadi pelatih, tetapi hal itu tetap tidak menghilangkan kekecewaan.”

“Anda tahu dalam kepala Anda bahwa dipecat hanyalah bagian dari hidup sebagai pelatih, tapi itu tidak menghentikan Anda untuk merasa, dalam hati Anda, bahwa Anda gagal. Ketika saya meninggalkan Milan, saya memandangnya sebagai kegagalan saya,” tandasnya.