Wenger – Arsenal Bisa Lolos Ke Liga Champions

The Gunners mendominasi penguasaan bola melawan Olympiakos
Wenger – Arsenal masih bisa lolos ke babak 16 besar

Manajer Arsenal, Arsene Wenger menegaskan pihaknya masih bisa lolos ke babak 16 besar Liga Champions meskipun berada di dasar klasmen Grup F tanpa poin setelah kalah dari Olympiakos.

Kekalahan 3-2 di kandang sendiri itu adalah kekalahan Arsenal yang kedua kali berturut-turut di babak penyisihan grup, dengan dua pertandingan berikutnya melawan juara Jerman, Bayern Munich. “Ini membuat kita dalam posisi yang buruk tapi kami masih berada di dalam kompetisi ini,” kata Wenger. “Kami harus mendapatkan hasil di pertandingan berikutnya melawan Bayern Munich.”

The Gunners mendominasi penguasaan bola melawan tim Yunani tersebut, tapi kemudian kebobolan tiga gol dan Olympiakos mengamankan kemenangan pertama mereka di Inggris. Theo Walcott dan Alexis Sanchez menyamakan kedudukan dari gol pembuka Felipe Pardo untuk tim tamu dan gol bunuh diri oleh David Ospina, yang telah dipilih Wenger sebagai pengganti kiper utama Petr Cech.

Tetapi hanya 59 detik setelah Arsenal menyamakan kedudukan untuk kedua kalinya, Alfreð Finnbogason mencetak gol kemenangan. Ketika ditanya apakah itu malam terburuknya di Eropa, Wenger menjawab: “Tidak. Duduk di bangku cadangan dan kalah di final pada tahun 2006 dan ajukan lagi pertanyaan itu.”

Apakah Ada Harapan Untuk Arsenal?

Kekalahan di hari Selasa berarti Arsenal, yang telah lolos dari tahap grup untuk 15 musim terakhir, telah kehilangan dua pertandingan pertama mereka di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi itu. Tim terakhir yang berhasil lolos setelah kalah pada dua pertandingan pertama mereka di babak grup adalah Galatasaray di musim 2012 – 2013. Hanya sembilan klub yang pernah melakukan hal itu dalam sejarah Liga Champions.

“Kami harus berpikir kami dapat menangani Dinamo Zagreb dan Olympiakos dalam pertandingan tandang,” kata Wenger. “Beberapa aspek permainan kami cukup baik, tapi kami tidak memiliki kualitas dalam konsentrasi pertahanan kami. “Ttitik baliknya adalah ketika skor imbang 2-2. Kami telah mencetak gol dan kemudian kami langsung memberikan mereka kesempatan untuk mencetak gol lagi untuk membuat skor menjadi 3-2. “Kami memiliki 65% kepemilikan bola, tapi kami merasa bersalah karena kami kebobolan gol dengan mudah. Kami juga sedikit kurang beruntung.”

Leave a Reply